TUHAN Menciptakan Keindahan Relasi Kemanusiaan, Manusia Merusak dan Menghancurkannya

harmoni

Ilustrasi: Arbamedia.com

Setiap orang punya kesadaran akan Tuhan. Percaya eksistensi Tuhan berdaulat atas alam dan manusia sebagai ciptaanNya. Tetapi apakah itu cukup bagi kebutuhan hidup manusia? Apakah sekedar kesadaran dan percaya kepada Tuhan itu cukup. Apakah eksistensi Tuhan hanya manusia letakkan pada kesadaran pikiran dan ucapan yang keluar dari bibir saja.

Jika demikian, itulah realitas kehidupan duniawi manusia yang religiusitas humanistik ateistik (Beragama tahu Tuhan Ada tapi menolak Tuhan mengatur hidup manusia), mirip pemikiran Deisme, Tuhan selesai mencipta tapi tidak perlu turut campur perjalanan hidup ciptaanNya baik manusia dan alam. 

Tuhan hanya dibutuhkan kalau kita sadar kita hancur, jatuh terkapar, kehilangan makna dan tanpa harapan. Kesadaran mencari Eksistensi Tuhan menyerahkan diri ditolong dan diselamatkan oleh Tuhan. Baru akan muncul ketika manusia menghadapi tragedi kehidupan: persoalan, penderitaan dan ancaman mendorong orang mencari kuasa atau kekuatan di luar kemampuan dirinya untuk memberi pertolongan.

Ketika manusia tidak menyerahkan totalitas hidupnya kepada Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi. Sama seperti anak kecil bergantung harap pada penjagaan, pemeliharaan, pelukan hangat orang tua. Maka manusia akan percaya kepada kekuatan diri sendiri, pikiran sendiri, kemauan sendiri tanpa kontrol. Manusia menggunakan kebebasan melampaui batas kemanusiaan yang justru akan menghancurkan dirinya dan sesamanya. Manusia yang merasa memiliki kebebasan, bebas dari kontrol kedaulatan Tuhan (Ateis: Tuhan sudah mati), akan mengunakkan kebebasannya melanggar kebebasan orang lain secara buas dan brutal. Kebebasan untuk saling melenyapkan eksistensi manusia lainnya. Supaya eksistensi dirinya lebih tinggi dari orang lain, menguasai orang lain, mengontrol orang lain. Menjadi Tuhan penguasa bagi orang lain. Manusia kehilangan kasih antar sesama ciptaan Tuhan, menjadi serigala atas sesama. 

Manusia menjadi Iblis bagi sesama, setan yang saling menggoda dan tergoda untuk saling menghancurkan antar manusia sebagai ciptaan yang baik. Hakika manusia diciptakan untuk menjalankan kebenaran yang hakiki : menjalankan moralitas Ilahi yaitu standar kebaikan Tuhan yaitu; manusia hidup untuk saling memanusiakan satu dengan lainnya. Manusia lahir, hidup dan mati harus terus tertanam Kebenaran Ilahi yaitu Cinta Kasih sebagai cerminan sifat-sifat TUHAN untuk mendatangkan kedamaian atas bumi. Saling menolong, saling membantu, saling mendukung, saling mengingatkan sebagai.manusia yang diciptakan setara, sejajar dari debu yang hina dimuliakan oleh Tuhan.

Namun. ketika tidak ada lagi rasa kagum dan gentar (fear to God) terhadap Tuhan sebagai Penciptanya. Karena merasa diri lebih benar, lebih hebat, lebih berkuasa, lebih tinggi derajat/kasta dari orang lain. Maka orang lain akan kita anggap bukan sebagai sesama (Subyek) tapi sebagai sesuatu atau benda (Objek). Akan hilang hubungan antar manusia (interpersonal relationship). Bukan lagi I and Thou tetapi hubungan I and It.
Karena orang lain kita anggap bukan lagi sesama kita, sebagai subjek-subjek hidup yang setara yang diciptakan Tuhan. Yang harus kita refleksikan dengan membangun relasi saling rasa cinta, kasih, respek, hormat dan kagum. Maka orang lain akan kita anggap objek, atau benda yang kita anggap rendah (terjadi relasi Superior vs Interior, relasi yang kuat dan yang lemah. Subjektifitas kita untuk memanfaatkan dan mengorbankan subjekyifitas orang lain. Menjadikan orang lain sebagai objek pemuasan Egoisme Eksistensialistik Parsial tujunnya menguasai dan menundukkan hidup orang lain. 

Kita seharusnya dari awal diciptakan untuk saling membangun dan mendorong pada segala bentuk kehidupan yang baik. tujuannya sebagai agen kebaikan bagi sesama bukan menjadi agen kejahatan dan kerusakan antar sesama.

Relasi hubungan I and It, menjadikan orang lain sebagi objek menyebabkan kerusakan hubungan kemanusiaan;
Kita menjadikan orang lain objek seksual: kita perkosa, kita selingkuh, kita lecehkan secara sexsual harrasment.
Kita menjadikan orang lain sebagai objek untuk korban target  tipu menipu.
Kita menjadikan orang lain sebagai objek layaknya hewan yang jadi target dan korban pembunuhan.
Kita menjadikan orang lain sebagai objek sapi perahan yang nurut, untuk kita peras.
Kita menjadikan orang lain sebagai objek perbudakan, menindas, menekan dan memotong upah karyawan/pekerja. Dan lain sebagainya.

Hilangannya relasi I and Thou oleh relasi I and It, karena Kita tidak lagi melihat wajah Tuhan yang terekspresi dari wajah, pikiran dan perasaan sesama ciptaan yang mewarisi sifat-sifat kebaikan Tuhan yang hakiki.
Suatu kebohongan kita berucap cinta sesama manusia tanpa terlebih dulu sadar akan Cinta Tuhan yang diberikan atas ciptaanNya. Suatu kebohongan kita mengaku mencintai Tuhan tapi membunuh dan menghancurkan hidup manusia ciptaan Tuhan. Suatu kebohongan kita percaya Tuhan tapi kita tidak menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.

Kita akan benar-benar bebas dan saling menjaga kebebasan setiap individu, jika kita mengerti batasan kebebasan yang sejati itu. Kebebasan sejati manusia harus taat dan tunduk sepenuhnya, percaya percaya sepenuhnya pada kedaulatan Tuhan yang telah mengatur moralitas kebenaran Ilahi dalam setiap manusia. Bukan kebenaran versi setiap orang, kebenaran menurut ego masing-masing individu.

Relasi yang hakiki subjek manusia (I and Thou) akan terbangun sempurna. Ketika ada kesadaran untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan kita yang kita refleksikan mencintai orang lain sama seperti mencintai diri kita sendiri. Kita membenci orang lain artinya kita membenci diri sendiri. Kita berbuat jahat kepada orang lain sama seperti menjahati diri sendiri. Kita membunuh orang lain sama seperti membunuh kemanusian kita (baik fisik maupun phsikis).
Kita mencintai manusia sama seperti kita mencintai Tuhan.

Penulis: Freddy Watania