Tentara Hitam dan Tugu Perjuangan yang Terlupakan

Monumen Pahlawan

Kondisi Tugu Monumen Tentara Hitam di Desa Tanjung Alam, Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang. Foto/Dok: Anasril Azwar

Nama ku Djafri Sidik, aku lebih dikenal dengan sebutan tentara hitam sebab dimasa itu pergerakan ku dilakukan dimalam hari. Tanjung Alam adalah desa basis gerilya ku dimasa itu, tak banyak yang tahu bahwa bapak bupati memberi penghargaan kepada dengan mendirikan sebuah patung monument sebagai penghargaan kepada ku.

Di Tahun 1994 tugu monumen ku disahkan oleh bapak Kolonel Inf. Muslihan DS Bupati Rejang Lebong (pada masa itu) dan sekarang Desa Tanjung Alam menjadi wilayah Kabupaten Kepahiang setelah pemekaran di tahun 2000.

Setelah pemekaran itu pula tugu penghargaan ku ditinggalkan begitu saja, seperti tak bertuan dan tak ada yang memiliki selain masyarakat desa tempat tugu ku berdiri, terbukti setelah pengesahan itu hingga hari ini tugu yang mereka (masyarakat Tanjung Alam) sebut sebagai tugu perjuangan tak lagi memiliki kedua tangan.

Mungkin karena tempat tugu ku terletak di desa pedalaman, sehingga susah untuk dijangkau oleh instansi dan masyarakat luar, atas perhatian dan swadaya masyarakat setempat lah mereka berupaya untuk merawat tugu ku.

Tugu ku menjadi ikon desa Tanjung Alam yang terletak disimpang tiga masjid Al-Muttaqin, bahkan pergerakan ku (gerilya) dijadikan nama jalan sebagai penghargaan mereka kepada ku.

Namun tugu ku tak seindah tugu Pak Santoso yang kerap dikunjungi dan menjadi objek untuk berswa foto, bahkan tugu pak Santoso lebih dikenal dengan Taman Santoso sebab mempunyai lahan yang luas terletak di pusat keramaian Kabupaten Kepahiang. 

Tak banyak yang tahu tentang keberadaan tugu ku, Bupati Kepahiang bahkan Gubernur Bengkulu berkunjung ke Tanjung Alam di tahun 2021 (dalam acara panen raya di sawah Air Merah) mereka tak melihat bahwa tugu ku sudah tak memiliki kedua siku.

Bila tak ada yang ingin memiliki tugu ku, mungkin nasib tugu ku hanya sebatas itu, didirikan, disahkan lalu rata menjadi batu. Bahkan namaku hanya akan tertulis di hati masyarakat Tanjung Alam yang dulu (para pendahulu) dan akan hilang terbawa angin lalu.

Tanjung Alam

Tanjung Alam adalah salah satu desa di Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang. Desa yang berpenduduk 1.030 jiwa ini awalnya dirintis kisaran tahun 1932 oleh perantau dari Serawai (Seluma) sehingga menjadi talang-talang, kemudian tertua perwakilan dari talang-talang bersepakat untuk membuat desa.

Tahun 1948 akhirnya para tertua perwakilan talang sepakat menemui Pangeran Jenang Kalam (Pesirah Suro) untuk meminta restu, dengan kebijaksanaannya akhirnya Pangeran Jenang Kalam memberikan restunya kepada tertua Tanjung Alam dengan hasil kesepakatan Gegap sebagai Depati (Kepala Desa) pertama.

Tanjung Alam salah satu desa yang mampu berdiri ditengah perbedaan, hidup di tengah mayoritas tidak menghalangi untuk berkembang dan kini suku Serawai menjadi suku kedua jumlah penduduknya setelah suku Rejang. Dari hasil catatan yang saya peroleh bahwa desa Tanjung Alam sudah terpecah (mekar) menjadi 3 desa, desa Tanjung Alam, desa Cugung Lalang dan Kemudian desa Air Hitam.

Semoga kedepan akan ada yang akan memiliki dan mengurus tugu pak Lettu, salam dari penulis yang belum memiliki judul buku.