Natural Bengkulu

Memilih Pemimpin Hasil Seleksi Dua Godaan Motivasi Kepentingan

Memilih Pemimpin Hasil Seleksi Dua Godaan Motivasi Kepentingan

Tahun 2019 adalah tahun Politik dengan dua Agenda Besar untuk menentukan arah politik dan kebijakan strategis pembangunan lima tahun ke depan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai dan banggakan, yaitu, Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres). Perhelatan Akbar ini sangat menggoda individu tertentu untuk bisa berkuasa dengan dalil mengawal kepentingan dan menyuarakan aspirasi  rakyat pemilik sang kedaulatan.

Dalam upaya merebut suara rakyat saat ini, muncul individu-individu dari masyarakat yang merasa terpanggil menjadi pemimpin Rakyat, seperti;  pengiat pendidikan, pengiat LSM dan Ormas, Artis, Wartawan dan dari berbagai latar belakang, status sosial dan profesi lainnya.

Bahkan keterpanggilan jiwa datang dari para mantan Koruptor atas nama HAM dan hak warga negara yang dilindungi UU, pun ikut berjuang di Mahkamah Konstitusi untuk untuk bisa masuk dalam Bursa Bacaleg lewat 19 Partai Politik (15 Partai Nasional dan 4 partai lokal di Nanggroe Aceh Darusalam) 

Soal terpilih atau tidak ituk kembali lagi pada Rakyat pemilik kedaulatan lewat hak suara untuk  memilih siapa yang pantas menjadi pemimpin mereka.

Motivasi Menjadi Penguasa ?

Sebagaimana kita ketahui, Filsafat Politik tidak mengurusi aneka ramalan dan praduga politik, Ia bertugas untuk menganalisa dan mengkritisi realitas politik yang ada, dan kita hanya diminta belajar dari kenyataan, pengalaman dan sejarah.

Namun secara sederhana saja, naluri orang mau menjadi pemimpin yang berkuasa itu dilatar-belakangi dua hal saja, kedua latar-belakang itu sangat ditentukan oleh sang pedamba kekuasaan itu.

Pertama, karena dimotivasi oleh kepentingan materi, baik berupa keuntungan berupa harta kekayaan pada umumnya berupa ‘ materi ’ atau yang berbentuk keinginan untuk memuaskan diri agar dia bisa memerintah, mengendalikan, dan menguasai manusia lain sesuai kehendak dirinya sendiri bak seorang raja yang tak akan ada manusia yang akan membantahnya, dan pada puncaknya dia akan berupaya membawa rakyatnya untuk mengkultuskan dirinya laksana tuhan, seperti tokoh: Pharao ( Fir’aun ), Nero, Hitler, Stalin dan mungkin masih ada yang demikin di era modern sekarang ini.

Kedua, karena lebih dimotivasi oleh keterpanggilan jiwa dan idealismenya untuk membebaskan rakyatnya atau ummatnya dari sebuah model penindasan yang disebabkan oleh kezaliman yang dibuat oleh sistem atau peorangan yang bersifat zalim, ini misalnya banyak kita temukan pada model kepemimpinan yang pernah dicontohkan oleh para nabi atau orang-orang suci dalam sejarah peradaban manusia  seperti Musa, Yesus, Muhammad SAW, atau tokoh spiritual lainnya seperti Budha Gautama, Gandhi, Dalai Lama, dan lain sebagainya.

Paradoks

Yang terkadang sulit dipahami dan diterima oleh kebanyakan manusia normal adalah, ketika Tuhan pun “mengizinkan” kedua tipe pemimpin itu secara silih berganti untuk naik sebagai pemimpin, dengan tidak mengurangi hak-hak mereka sebagai pemimpin rakyatnya.

Lalu apakah rakyat yang dipimpin itu akan punya kesempatan untuk memilih pemimpin terbaik  bagi mereka semua, sehingga mereka tidak dirugikan kelak oleh sang pemimpin itu? justru disitulah letak adil dan demokratisnya kehidupan kita sebagai manusia, sebab, bagaimanapun sebagai rakyat, kita pasti akan memilih seorang pemimpin dari kelompok kita sendiri, yang kita nilai dia itu adalah paling baik dalam komunitas kita.

Kualitas seorang pemimpin itu, bagaimana kondisi lingkungan masyarakatnya ! jadi kalau kita ini berada dalam sebuah komunitas yang anggotanya mayoritas (cacat sosial) punya kesenangan antara lain suka maling, main judi, merampok, berzina, atau mabok tentu yang kita angkat sebagai pemimpin kita adalah orang-orang yang paling ‘Jago ’ untuk semua itu, yang akan kita nobatkan sebagai “raja maling”, “raja rampok”, “raja zina”, “raja judi” atau “raja mabok” ?

Namun jika kita ini berada dalam sebuah komunitas yang anggotanya adalah orang baik-baik, adil, jujur, disiplin, menghargai kehidupan dan kemanusiaaan, sopan, santun, tentulah komunitas itu tidak akan memilih calon pemimpin yang catat sosial, mereka pasti akan mengangkat seorang pemimpin yang jujur, amanah, cerdas dan punya komitmen untuk melakukan perbaikan dan kebaikan masyarakatnya demi mencapai martabat kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat. (Dari berbagai sumber)

Penulis: Freddy Watania
Editor: Riki Susanto