Kuliah Umum PBSI UMB: Jurnalistik dan Kecerdasan Buatan, Menakar Peluang dan Ancaman

Kuliah Umum

Kuliah Umum Prodi Bahasa dan Sastra Indoensia, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Rabu, 26 Juni 2024, Foto: Dok

Interaktif News - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Rabu, (26/6/2024) menyelenggarakan kuliah umum di Kampus 1 UMB, Kampung Bali, Kota Bengkulu. Kuliah umum yang mengusung tema "Peluang Karir Bidang Jurnalistik dalam Teknologi Artificial Intelligence" menghadirkan dua narasumber yakni Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Bengkulu, Riki Susanto dan jurnalis muda, Mahmud Yunus.

Wakil Dekan 1 FKIP, UMB, Dr, Tomi Hidayat, M.Pd dalam sambutanya mengatakan, kuliah di luar kelas merupakan tuntutan Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di perguruan tinggi. Memperbanyak aktifitas kuliah umum bukan hanya bermanfaat untuk akreditasi jurusan namun memperbesar peluang lulusan untuk meniti karir di masa depan.  

“Mewakil dekan kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia salah satu prodi yang aktif melakukan kegiatan di luar kampus dan memiliki dosen-dosen yang sangat luar biasa. Semoga kegiatan ini bisa memperkaya khazanah dunia akademik di kampus UMB” kata Tomi Hidayat. 

Sementara Riki Susanto mengatakan, pentingnya jurnalistik dalam masyarakat tidak dapat disangkal. Jurnalistik berfungsi sebagai pilar demokrasi yang kehadirannya adalah sebuah keniscayaan. Namun, dengan volume data yang semakin besar dan kebutuhan akan informasi yang cepat, dunia pers dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Di sinilah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berperan penting. 

AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat, memberikan wawasan yang mendalam, menulis artikel berita sederhana bahkan tanpa campur tangan manusia. Namun demikian, integrasi AI dalam jurnalistik juga membawa tantangan tersendiri. Kekhawatiran tentang etika, seperti bias algoritma dan privasi data, menjadi isu yang perlu diatasi. Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan peran manusia dalam jurnalistik yang dapat berdampak pada lapangan kerja.

“Penting untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat bantu yang memperkaya jurnalistik bukan menggantikannya. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat membantu jurnalistik berkembang lebih jauh dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat” kata Riki

Lebih lanjut Riki mengatakan, kompetensi dasar seorang jurnalis atau wartawan adalah kemampuan menulis, membaca, menyimak dan berbicara. Kemampuan ini sudah dimiliki mahasiswa yang menempuh program studi pendidikan bahasa sehingga dapat menjadi modal dasar untuk menempuh karir di bidang jurnalistik.

“Saya termasuk beruntung pernah dididik di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UMB karena dibekali dengan dosesn-dosesn saya dengan ilmu itu. Demikian pula untuk adik-adik mahasiswa yang saat ini sedang menempuh kuliah, karir di dunia jurnalistik bisa menjadi pilihan” kata Riki.  

Serupa disampaikan Mahmud Yunus. Ia menyebutkan dalam dunia jurnalistik, pemanfaatan teknologi AI untuk menyederhanakan tugas-tugas seperti menganalisis data bahkan pengecekan fakta.
Salah satu penerapan AI yang paling menonjol dalam jurnalisme adalah penggunaan chatbot dan asisten virtual untuk berinteraksi dengan audiens dan menjawab pertanyaan umum.

"Both ini dapat langsung merespons pertanyaan pengguna dan memberikan pembaruan berita sepanjang waktu, meningkatkan pengalaman pengguna, dan memperluas jangkauan outlet berita," kata Mahmud

Meskipun AI memberikan banyak keunggulan, penting untuk mengakui kualitas unik yang dibawa oleh jurnalis manusia belum bisa tergantikan oleh AI. Jurnalis manusia memliki opini, empati, pemikiran kritis, kemampuan untuk memahami dan menafsirkan situasi kompleks dengan cara yang belum bisa ditiru oleh AI.

“Karya jurnalistik itu terikat dengan UU Pers dan Kode Etik. Selain itu banyak regulasi baru dalam dunia pers seperti pemberitaan ramah anak yang itu tidak mungkin diterjemahkan secara rigid oleh AI” kata Mahmud. 

Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Elyusra, M.Pd mengkritik dunia pers yang saat ini tidak memberikan ruang yang cukup terhadap literasi kebahasaan, terutama bidang sastra. Pers banyak terjebak dalam fenomena klik bait yang cendrung bombastis tapi minim literasi. 

“Pers kita harus memberikan ruang yang cukup kepada dunia sastra. Saya melihat media lokal di Bengkulu belum memberikan ruang yang cukup untuk itu. Ini bisa menjadi masukan agar karya-karya jurnalistik bisa lebih berwarna selain memperbaiki tata bahasa” kata Elyusra.

Reporter: Irfan Arief