Jurnalisme Minus Kepekaan Sosial

Covid-19

Oleh: Zulkarimen Nasution

Memang benar bahwa pekerjaan pers ialah memberitakan apa saja yang terjadi di masyarakat. Untuk itu pers mencari tahu, apa yang kelihatan, atau kedengaran di tengah masyarakat. Untuk hal-hal tertentu bahkan media menggali apa yang tidak kelihatan di permukaan. Semua itu ditampilkan agar publik mengetahui apa masalah yang tengah dihadapi, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengatasinya.

Melalui pemberitaan dan muatan konten yang disiarkannya, media membantu memfokuskan perhatian masyarakat. Agar masalah yang dihadapi bisa dipecahkan bersama.

Saat ini, sama dengan seluruh negara di dunia, kita tengah menghadapi wabah Covid-19 yang terus merebak. Kasus positif Covid-19 di Indonesia mengalami penambahan sebanyak 6.993 dari data Minggu (6/6/21) kemarin. Dengan jumlah penderita yang mendekati 2 juta orang dan angka kematian 52,879 orang, sudah sewajibnya kita memusatkan daya dan pikiran pada bencana ini.

Tapi bacalah judul-judul berita di media kita dalam sepekan terakhir ini: "Daftar Elektabilitas Para Pemimpin Parpol Bakal Capres 2024", (CNN Indonesia, Sabtu, 12/06/2021), "INFOGRAFIS: Elektabilitas Capres dari 7 Lembaga Survei, (Liputan6.com, 11 Jun 2021), "Chemistry Megawati-Prabowo dan Peluang Koalisi 2024" (Merdeka, Rabu, 9 Juni 2021).

Kompas TV, Rabu (9/6/21) malam menayangkan Satu Meja The Forum bertajuk ”Pilpres 2024 dan Kasak-kusuk Koalisi”. Dalam diskusi yang dipandu Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Budiman Tanuredjo itu, hadir sebagai narasumber melalui telekonferensi, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Willy Aditya, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar Maman Abdurrahman, serta Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi.

Sungguh tidak seirama, bahkan terasa ironi, antara soal hidup matinya korban Covid dengan sibuknya media meliput dan mengulas soal siapa presiden tahun 2024 nanti. Padahal, presiden yang sekarang saja pun masih baru memulai masa jabatan yang kedua ini. Jelas terasa ketiadaan kepekaan dan empati media terhadap penderitaan masyarakat yang terkena wabah Covid. Juga berpotensi terpecahnya fokus bangsa yang tengah menghadapi masalah yang demikian berat.

Dalam kaitan ini, ada baiknya ditilik apa yang dikemukakan oleh Milica Pesic, direktur eksekutif, Media Diversity Institute di London, bahwa ada lima pilar top prinsip jurnalisme yakni: fairness, akurasi, inklusivitas, balance dan sensitivitas. Sensitivitas–berkenaan dengan memikirkan perasaan masyarakat.

Semaksimal mungkin, para jurnalis harus peka kepada perasaan masyarakat dan menahan diri dari melukai dan mengesalkan mereka. Di sisi lain, juga dikenal fungsi media sebagai gatekeeper atau penjaga gawang yang menyaring informasi atau konten apa yang layak siar menurut kondisi dan situasi serta timing yang sesuai untuk kemaslahatan rakyat banyak.

Jadi, meski berbagai lembaga dan perusahaan survei sibuk menampilkan dan mempromosikan hasil survei mereka soal presiden tahun 2024, seyogianyalah media dan para jurnalis mempunyai pertimbangan sendiri tentang manfaat dan mudaratnya bagi masyarakat luas.

Dari sudut etik jurnalisme pun ironi ini tak dapat dibenarkan. Para pihak yang berkompeten di lingkungan jurnalis sendiri, seperti organisasi-organisasi wartawan dan Dewan Pers kiranya segera dapat mengambil langkah yang diperlukan.