Natural Bengkulu

Solar Langka, Garda Rafflesia Sebut Ada Oknum Bermain

Solar Langka, Garda Rafflesia Sebut Ada Oknum Bermain

Kota Bengkulu, BI – Kelangkaan BBM jenis solar subsidi akhir-akhir ini menjadi perhatian serius Garda Rafflesia. Lembaga yang bermarkas di Sawah Lebar ini menyebut banyak oknum yang ikut terlibat dalam permainan solar subsidi. Kondisi inilah yang kemudian disebut menjadi sebab utama terjadinya antrean panjang di beberapa SPBU Bengkulu. 

“kita jangan dibuat terlena dengan pengalihan perhatian oleh oknum-oknum yang bermain dibalik solar subsidi, Pertamina jelas mengatakan stok solar subsidi untuk Bengkulu itu sudah sesuai kouta kebutuhan, ada 31000 KL yang disalurkan setiap bulanya” Kata Sadikin Ali, Ketua Umum Garda Rafflesia, Selasa, (23/10/2018)

Lebih lanjut, Sadikin menyebut pola yang dimainkan para kartel itu sangat unik, rapi, dan terkesan legal. Bahkan, Sadikin menyebut permainan solar subsidi melibatkan pengusaha besar yang memainkan peran utama sektor perekonomian Bengkulu. Mereka juga di backing oleh oknum aparat dalam memuluskan aksinya. Tidak jarang juga aparat menjadi pemain utama, Jelas Sadikin ketika menyampaikan keterangan di hadapan media ini. 

“hilirnya banyak dikonsumsi perusahaan pertambangan, kontraktor, perusahaan perkebunan yang pasti industri skala besar, kami sedang melakukan investigasi medalam, kita sudah punya data awal, termasuk informasi dari mantan pemain yang sudah tobat, SPBU juga ada yang terlibat” Kata Sadikin 

Menurut data Garda Rafflesia, modus yang dimainkan oknum tersebut berbagai macam. Ada yang melibatkan SPBU.  Trik yang dilakukan pihak SPBU menyatakan solar subsidi telah habis namun faktanya solar subsidi masih ada didalam tangki penampungan. Solar itu kemudian dijual kepada pengepul dengan harga subisidi sebagai catatan administrasi, namun untuk pembayaran pihak SPBU menerima harga lebih dari harga yang tercatat.  Kemudian pengepul ini akan menjual kembali kepada pelaku industri dengan harga dibawah harga solar industri.
 
“disini modusnya sama-sama untung, pihak pelaku industri untung dengan membeli BBM dibawah harga industri, pihak SPBU untung dengan menjual  BBM dengan harga subsidi namun menerima pembayaran lebih di bawah meja, kartel sudah pasti untung. Selisih solar industri dengan solar subsidi sangat banyak, solar industri 10.050.000 sedangkan solar subsidi hanya 5.150.00, ada selisih 5000 ribu rupiah per liter, jadi angka selisih inilah yang dijadikan keuntungan bersama.

Permainannya ribuan ton jangan dilihat angka per liter, bayangkan kalau keuntungan masing-masing pihak diangka 1000 rupiah saja per liter, jika mereka ngumpulkan 1000 KL per bulan berapa duit (1 KL = 1000 liter-red), bisa 100 juta masuk kantong mereka per bulan, ini bisnis hitam yang sangat empuk” Jelasnya

Baca juga : Minyak Mentah Masih Beredar di Bengkulu

Modus lain yang dilakukan, dengan cara melakukan praktek pengepulan illegal dengan cara mengantri di SPBU menggunakan tangki modifikasi. Otomatis minyak dibeli dengan harga subsidi, biasanya minyak ini dikumpulkan di suatu tempat untuk kemudian dijual dengan pelaku industri nakal. 

“praktek ini merugikan masyarakat kelas bawah yang harusnya menjadi sasaran BBM subsidi, Solar subsidi itu untuk masyarakat bukan untuk para konglomerat, akibatnya banyak sopir-sopir truk yang antri karena menunggu BBM subsidi datang, begitu juga kendaraan umum yang menggunakan bahan bakar solar, akhirnya antri di SPBU tidak terhindarkan, demikian juga dengan pelaku UKM tidak kebagian karena sudah dimakan oknum” Kata Sadikin. 

Garda Rafflesia juga meminta Polda Bengkulu untuk menyelidiki masalah ini, agar oknum-oknum pelaku itu jerah dan segera ditindak sebagaimana peraturan yang berlaku. Begitu juga dengan Gubernur dan DPRD untuk lebih aktif melakukan pengawasan peredaran BBM terutama BBM subsidi.  

“praktek kartel minyak ini sudah lama terjadi dan berlarut-larut namun seolah-olah dibiarkan, datanya jelas, stock solar subsidi yang dipasok Pertamina itu mencukupi mereka itu punya kalkulasi, kenapa antrian di SPBU sangat panjang, tentu solar-nya kurang, lantas kemana minyak itu” Tutup Sadikin.
 
Reporter : Riki Susanto
Editor : Freddy Watania