Masih Rendahnya Kesadaran Masyarakat untuk Patuhi Protokol Kesehatan

Covid-19 Provinsi Bengkulu

Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bengkulu Memberikan Sangsi Hukuman Kepada Pelanggar Protokol Kesehatan. Foto: Alfridho AP 

Oleh: Alfridho Ade Permana

Sudah lebih dari Enam bulan pandemi COVID-19 melanda Tanah air. Jumlah kasus yang terkonfirmasi positif di Indonesia hingga kini masih terus mengalami angka peningkatan. Berdasarkan data terbaru dari laman  covid19.go.id, hingga tulisan ini dibuat pada Senin 26 Oktober 2020, jumlah pasien positif virus corona mencapai 392.934 orang.

Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah, baik provinsi dan kabupaten daerah di seluruh Indonesia untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 ini, salah satunya di Bengkulu. Pemerintah Provinsi Bengkulu pada awal Oktober secara resmi meluncurkan Peraturan Gubernur (Pergub) Bengkulu Nomor 22 tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol Kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 di wilayah Provinsi Bengkulu.

Namun, pantauan dilapangan masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk dapat mematuhi protokol kesehatan Covid-19 seperti menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Hal ini seringkali terlihat di jalanan, tempat wisata, warung makan, cafe, pasar tradisional hingga perkampungan, masih banyak saja warga tidak menggunakan masker, berkerumun, duduk berdekatan serta masih abai untuk selalu mencuci tangan setelah beraktivitas.

Artinya, masyarakat belum sepenuhnya mendukung pemerintah untuk memutus mata rantai virus Covid-19. Padahal bisa saja orang yang berada disekitar mereka sudah terjangkit corona tetapi tidak ada gejala atau biasa disebut Orang Tanpa Gejala (OTG) yang dapat menyebarkan virus kepada mereka.

Hal ini juga disebakan banyaknya asumsi-asumsi yang terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, seperti virus corona yang eksistensinya diragukan, anggapan bahwa anak muda lebih kebal daripada orang tua, dan asumsi lainnya.

Salah satu bentuk rendahnya kesadaran masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan Covid-19 di Bengkulu juga terlihat saat pelaksanaan kegiatan tahapan Pilkada serentak 2020, terpantau dilokasi kampanye masih banyak terlihat masyarakat yang enggan memakai masker dan tidak menerapkan physical distancing (menjaga jarak).

Kondisi paling parah terjadi di pasar tradisional Panorama dan pasar minggu kota Bengkulu. Padahal Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu menyatakan pasar tradisional tersebut, menjadi klaster baru penularan virus corona jenis baru. Klaster terbentuk usai salah satu penjahit di pasar itu terkonfirmasi positif covid-19.

Hingga saat ini,  terlihat pedagang dan pembeli dipasar itu masih abai dalam mematuhi protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah.

Seharusnya masyarakat mau bekerja sama untuk bersama-sama menekan laju penyebaran Covid-19 ini dikarenakan tenaga dokter, perawat dan rumah sakit tempat isolasi yang terbatas jika kasusnya terus meningkat.

Jadi, yang perlu dilakukan sekarang yaitu kita bersama-sama saling membantu untuk berusaha memutus mata rantai penyebaran virus ini. Kita harus sadar untuk terus patuh dan disiplin protokol kesehatan seperti menggunakan masker, physical distancing dan selalu mencuci tangan setelah beraktivitas. Peran serta kita sangat membantu pemerintah dalam menanggulangi Covid-19.