Hai Pelajar SMA, Ada Kesempatan Belajar di Amerika Nih!

Beasiswa Luar Negeri

Interaktif News -Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui lembaga AFS Intercultural Programs kembali menawarkan kesempatan belajar ke luar negeri. Beasiswa pendidikan ini berbentuk program pertukaran pelajar (student exchange program) dan belajar ke luar negeri (study abroad). Kesempatan ini ditujukan bagi siswa-siswi kelas X dan XI SMA/SMK/Madrasah Aliyah/pondok pesantren, dan sederajat.

Terdapat dua jenis beasiswa, yaitu AFS Year Programs dan Youth Exchange and Study(YES) Programs dengan durasi belajar mulai tiga bulan, enam bulan, dan satu tahun. Di Indonesia, AFS Intercultural Programs menggandeng Yayasan Bina Antarbudaya. Selama menjalankan beasiswa pendidikan ini di negara-negara bagian AS, para siswa akan tinggal bersama keluarga AS (host family). Mereka juga akan ikut merasakan belajar di sekolah-sekolah setempat.

Para siswa peraih beasiswa AFS juga diberi kesempatan mengenalkan budaya mereka kepada rekan-rekannya, pelajar-pelajar AS. Di sana, para pelajar Indonesia juga akan belajar persahabatan antarbangsa dengan menghargai keragaman, perbedaan budaya, dan kemandirian. Semua kegiatan itu akan didampingi oleh para relawan dari AFS Intercultural Programs.

Lalu bagaimana cara mengikuti seleksinya? Berikut ini adalah persyaratannya. Untuk keberangkatan tahun 2022, para siswa harus kelahiran antara 1 Agustus 2004--1 Agustus 2006 dan dibuktikan dengan akte kelahiran. Calon peserta harus bersekolah dan tinggal di Indonesia serta memiliki paspor Indonesia. Usai mengikuti program beasiswa ini mereka juga diwajibkan untuk kembali ke bangku sekolahnya masing-masing.

Mereka harus mengantongi surat izin dari orang tua dan sekolah masing-masing. Ada juga surat rekomendasi yang harus disiapkan calon peserta masing-masing dari teman dekat atau sahabat, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah/organisasi luar sekolah.

Untuk syarat akademik, calon peserta harus memiliki nilai rapor minimal B atau 80 selama dua tahun ajaran terakhir dan memenuhi KKM. Tak hanya punya nilai akademik baik, calon peserta juga diharapkan memiliki dan mengikuti kegiatan nonakademis di sekolah maupun luar sekolah khususnya dalam lima tahun terakhir. Ini dibuktikan dengan sertifikat, piagam, atau surat keterangan.

Pendaftaran dibuka sejak 20 Agustus 2021 dan akan ditutup 11 September 2021. Calon peserta program beasiswa AFS dapat menghubungi salah satu dari 20 cabang (chapter) Yayasan Bina Antarbudaya. Ke-20 cabang tersebut terdapat di Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bogor, Bandung, Karawang, Semarang, dan Yogyakarta. Kemudian di Malang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Makassar, dan Ambon.

Pendaftar program AFS akan dipungut biaya sebesar Rp100.000 sebagai biaya pembelian personal identification number (PIN). Misalnya bagi para siswa yang mendaftar di Bina Antarbudaya Chapter Jakarta, PIN dapat dibeli dengan mengisi formulir di laman situs bit.ly/PembelianPINJKT2021.

PIN tersebut akan dikirim ke email yang telah didaftarkan calon peserta melalui formulir sebelumnya. Bina Antarbudaya Chapter Jakarta akan melakukan pengiriman PIN setiap jam 11.00 dan 16.00 WIB. Satu orang hanya boleh membeli satu PIN yang akan digunakan untuk mengaktivasi satu akun dengan menggunakan satu email.

PIN tersebut dipakai untuk mengaktivasi email di situs www.seleksibinaantarbudaya.or.iduntuk memulai proses pendaftaran. Terdapat 12 halaman formulir yang harus dilengkapi secara berurutan, termasuk menulis esai maksimal 4.500 karakter atau setara 1--1,5 halaman kertas ukuran A4. Kemudian esai diketik dengan format huruf Times New Romanukuran 12.

Silakan juga unggah (upload) semua persyaratan berkas yang diminta (akte kelahiran, salinan nilai rapor, ijazah, sertifikat, piagam) dan foto medali atau piala jika pernah mencetak prestasi. Jika semua berkas lengkap silakan kirim ke email dituju. Pastikan sekali lagi bahwa seluruh persyaratan sudah terpenuhi sebelum dikirim atau sebelum diverifikasi panitia. Terdapat tiga tahapan seleksi yaitu seleksi berkas, wawancara, dan seleksi dinamika kelompok. Setiap tahapan seleksi akan diumumkan melalui email panitia kepada masing-masing kandidat beasiswa.

Sejarah Program Antarbudaya

Program pertukaran pelajar dan belajar di luar negeri diperkenalkan pertama kali oleh America Field Service (AFS), sebuah organisasi nirlaba yang didirikan A Piatt Andrew saat Perang Dunia I, 1915 silam. Organisasi ini bertugas membantu menyediakan supir-supir ambulans untuk para korban perang.

Angkatan pertama relawannya mayoritas berasal dari mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi ternama AS. Mereka kemudian ditugaskan sebagai relawan supir ambulans di Paris, Prancis. Kendati sebagian berasal dari keluarga berkecukupan, para mahasiswa relawan ini tetap senang menjalankan tugasnya membawa korban perang meski nyawa menjadi taruhan.

Pengalaman ini kemudian mereka tuliskan dalam bentuk surat, diari, jurnal dan puisi. Tak hanya berkisah soal perang, para relawan ini juga menceritakan kearifan lokal, budaya setempat, dan cara masyarakat dan pelajar setempat berinteraksi dengan warga asing. Kisah-kisah inspiratif relawan supir ambulans ini justru makin menggugah generasi muda di Negara Pam Sam untuk ikut bergabung bersama AFS dan merasakan pengalaman yang sama di Prancis.

Singkat kisah, AFS berhasil mengembangkan program pertukaran pelajar untuk mempelajari aspek-aspek kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan tidak hanya dengan Prancis usai Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Seperti dikutip dari laman situs resminya www.afs.org, saat ini program beasiswa AFS sedang diikuti oleh lebih dari 11.800 pelajar dari 113 negara termasuk Indonesia. Mereka ditampung oleh sekitar 9.000 host family. Sudah sekitar 500 ribu lebih alumni pelajar dari seluruh dunia pernah mengikuti program AFS.

Di Indonesia, program pertukaran pelajar AFS sudah ada sejak 1956 silam. Angkatan pertama penerima beasiswa AFS di Indonesia terdiri dari tujuh pelajar di antaranya terdapat nama sastrawan Taufik Ismail, Mohammad Diponegoro, dan Ibrahim Kadir serta tokoh militer ZA Maulani. Mereka mengikuti program pertukaran pelajar selama enam bulan hingga setahun di negara bagian Nebraska.

Setiap tahunnya sebanyak 80 pelajar Indonesia diberangkatkan dengan program AFS ini, baik untuk jangka pendek (3-6 bulan) atau satu tahun. Beberapa tokoh nasional pernah menjadi alumninya seperti pendidik Arief Rachman, sosiolog Imam B Prasodjo, pakar kesehatan Kartono Mohammad, pengusaha Tanri Abeng, politisi Fadli Zon dan Anies Baswedan. Ada pula motivator Mario Teguh, sutradara Joko Anwar, Najwa Shihab, Indra Herlambang, dan Valerina Daniel. Selamat mendaftar ya!

Sumber: Indonesia.go.id
Editor: Irfan Arief