Dilema Etika dalam Praktik Non Fungible Token

NFT

NTF, Foto/Dok: emerging-europe.com

NFT atau Non-Fungible Token adalah sebuah bentuk aset digital terbaru yang umumnya diatribusikan kepada media layaknya foto, gambar, musik, serta video. Dimana aset tersebut berbentuk token yang unik, tidak bisa direplika dan melekat pada tiap media yang sudah dijadikan NFT dengan teknologi blockchain. Per transaksinya di dunia digital, harga dan keuntungan yang didapatkan dari NFT berkisar mulai dari ratusan rupiah sampai bahkan milyaran rupiah. 

Hadirnya NFT dianggap sebagai gebrakan dan inovasi besar di dalam tidak hanya komunitas investor namun juga komunitas seni. Sebagaimana NFT menyediakan sarana baru bagi pegiat seni untuk memperoleh pendapatan dalam jumlah yang besar secara lebih bebas dan mudah. Kemudahan dan keuntungan besar yang ditawarkan oleh pasar NFT, menarik beragam orang untuk turun dan mengambil bagian. 

Seiring berjalannya waktu, pada awal 2021 NFT pun resmi menjadi salah satu topik yang paling hangat untuk diperbincangkan di kancah Internet. Meskipun begitu, big fortunate things come with big responsibility and risks, dimana pada kenyataannya proses pembuatan dan praktik NFT itu sendiri mengancam keberlangsungan lingkungan dan kerap kali melanggar hak cipta karya orang lain. Hal ini kemudian memunculkan pandangan yang dilematis terhadap penggunaan NFT.

Lingkungan

Untuk menjadikan sebuah karya media sebagai NFT, seseorang perlu mengatribusikan sebuah kode unik terhadap media original yang bersangkutan ke dalam blockchain. Proses pengatribusian ini membutuhkan energi listrik yang besar dan berpotensi untuk merusak lingkungan. Hal ini menjadi demikian dikarenakan energi listrik yang digunakan untuk memproses NFT sampai hari ini masih berbasis fossil fuel, dimana tahapan ekstraksi fossil fuel mengeluarkan banyak emisi CO2 yang mencemari udara dan lingkungan. 

Besarnya energi yang dibutuhkan untuk NFT berbanding positif dengan CO2 yang dikeluarkan ke udara, semakin banyak transaksi NFT, semakin besar CO2 yang dikeluarkan. Dimana berdasarkan Digiconomist, satu transaksi NFT sendiri memakan lebih dari 70.32kWh energi. Hal ini sejumlah dengan 34kg CO2 dan energi yang dibutuhkan untuk memberdayakan 1 rumah untuk 2 setengah hari. 

Total transaksi ethereum secara keseluruhan (termasuk NFT) di dunia sekarang membutuhkan daya energi yang lebih besar dibandingkan energi yang dihabiskan oleh seluruh negara Denmark. Jejak karbon yang ditinggalkan  per transaksinya juga mencapai 76.000 transaksi kartu kredit. Energi yang dibutuhkan untuk memproses satu transaksi NFT menjadi sangat besar disebabkan oleh banyaknya pengguna yang mencoba untuk mengkomputasi sebuah transaksi NFT yang sama di waktu yang sama. Hal ini menjadikan NFT sustainable for wallet but not the environment. Berdasarkan hal tersebut, meningkatnya praktik transaksi NFT dalam jumlah besar dapat merusak ozon dan lingkungan dalam kecepatan yang lebih singkat. 

Selain itu berbagai platform transaksi NFT papan atas juga dilaporkan  tidak transparan dengan laporan emisi CO2 yang dikeluarkan dan energi yang digunakan, hal ini terbukti dengan salah satu pengalaman yang dialami oleh seniman Joanie Lemercier di platform Nifty Giveaway. Dimana permintaan laporan emisi karbon dan energi

Meskipun begitu, layaknya industri lain yang bermula memiliki potensi tinggi dalam mencemari lingkungan, komunitas pegiat NFT membawakan inovasi terbaru yaitu CleanNFT, platform transaksi NFT dan cryptoart yang ramah lingkungan, dimana proses atribusi kode memakan energi yang lebih kecil. Hal ini juga muncul dalam upaya untuk menyediakan alternatif transaksi ethereum yang lebih etis

Hak Cipta

Menurut Kementrian Hukum dan HAM R.I, Hak Cipta merupakan hak eksklusif yang diberikan kepada pencipta secara otomatis setelah suatu ciptaan diwujudkan (DGIP). Agar pencipta mendapatkan hak tersebut secara resmi, mereka harus memenuhi syarat dan mengikuti prosedur permohonan kepada lembaga pemerintahan. Dengan itu, terlihat bahwa Hak Cipta merupakan sesuatu yang penting bagi seniman dan pencipta agar hasil karya mereka aman dari plagiat. Perkembangan NFT telah menjadi sarana untuk seniman digital memverifikasi suatu karya sebagai miliknya, dan menjadi cara untuk memberikan nilai kepada karya secara eksklusif. Namun, dengan perkembangan NFT yang terus membuat lingkungan menjadi lebih rumit dan kompleks, telah menyebab timbulnya berbagai masalah dengan kekayaan intelektual.

NFT dijuluki sebagai cara seniman dapat menjual karya yang bebas dari ancaman plagiat sebab NFT original yang dibuat mereka mempunyai token yang dapat menjadi bukti kepemilikan serta menguatkan hak cipta seorang seniman. Namun, permasalahan muncul saat seni yang dijual sebagai NFT merupakan karya yang diplagiat atau mempunyai unsur-unsur desain dari seniman lain. Salah satu kasus yang muncul terjadi saat seorang kurator bernama Ben Moore memotret karya seni milik Anish Kapoor, David Bailey, dan berbagai seniman lain dan menjual foto tersebut sebagai NFT. Moore tidak mendapatkan izin dari pencipta karya saat memotret dan menjual foto karya mereka, maka timbul konflik atas legalitas dan kekayaan intelektual. 

Contoh kasus lain yang sering timbul dan menyebabkan konflik hak cipta adalah penjualan keseluruhan karya seni milik seseorang tanpa izin atau pengetahuannya serta juga pemakaian unsur desain yang sama dalam karya seni digital. Berbagai kasus tersebut telah meningkat dalam jumlah, diiringi oleh peningkatan dalam popularitas NFT yang terjadi secara pesat. Sekarang, skala aktivitas jual beli NFT, sistem pasar yang baru, serta permasalahan yang timbul telah melampaui kemampuan regulasi dan hukum dalam melindungi hak cipta dari seniman. 

Meskipun pada saat ini terjadi berbagai kasus penipuan dan plagiat dalam lingkungan NFT, media tersebut tetap merupakan suatu perkembangan yang dapat memberi keuntungan besar kepada seniman dan pencipta karya. Maka diperlukan peningkatan dalam pemantauan dan regulasi dalam pemerintahan, kesadaran pembeli dan penjual, serta inisiatif dari website perantara atau marketplace agar keamanan kekayaan intelektual dan hak cipta dapat ditegakan. 

Analisa

Istilah etika dapat merujuk pada studi filosofis tentang konsep moral benar dan salah dan moral baik dan buruk, pada teori filosofis apapun tentang apa yang benar dan salah secara moral atau baik dan buruk secara moral, dan pada sistem atau kode aturan moral apapun, prinsip, atau nilai. Yang terakhir mungkin terkait dengan agama, budaya, profesi tertentu, atau hampir semua kelompok lain yang setidaknya sebagian dicirikan oleh pandangan moralnya.

Secara tradisional, etika mengacu pada studi filosofis tentang moralitas, yang terakhir adalah seperangkat keyakinan yang kurang lebih sistematis, biasanya dipegang bersama oleh suatu kelompok, tentang bagaimana orang harus hidup. Etika juga mengacu pada teori-teori filosofis tertentu tentang moralitas. Kemudian istilah itu diterapkan pada kode moral atau sistem nilai tertentu (dan lebih sempit). Etika dan moralitas sekarang digunakan hampir secara bergantian dalam banyak konteks, tetapi nama studi filosofis tetap etika.

Etika penting karena (1) itu adalah bagian dari berapa banyak kelompok yang mendefinisikan diri mereka sendiri dan dengan demikian menjadi bagian dari identitas masing-masing anggotanya, (2) nilai-nilai lain yang berkaitan dengan sebagian besar sistem etika mencerminkan dan mendorong hubungan manusia yang erat serta saling menghormati dan percaya, dan (3) bisa menjadi "rasional" bagi orang yang mementingkan diri sendiri untuk bermoral, karena kepentingan pribadinya bisa dibilang paling baik dilayani dalam jangka panjang dengan membalas perilaku moral orang lain.

Nilai sebenarnya dari NFT untuk bisnis adalah bahwa teknologi ini memungkinkan untuk menciptakan aset yang unik. Fakta ini memungkinkan bisnis Anda memberikan pengalaman dan penawaran pelanggan yang unik kepada audiens. Fleksibilitas NFT memungkinkan Anda membuat apa pun yang dapat Anda bayangkan.

Salah satu alasan utama NFT penting bagi merek adalah karena NFT dapat digunakan untuk mewakili file digital, seperti seni, audio, dan video. Mereka sangat serbaguna, mereka dapat digunakan untuk mewakili bentuk karya kreatif lainnya seperti real estat virtual, dunia virtual, mode, dan banyak lagi.

NFT dimungkinkan melalui teknologi blockchain yang mendukung cryptocurrency seperti Bitcoin dan ETH. Kita dapat menulis seluruh artikel di blockchain, tetapi singkatnya, blockchain adalah catatan digital informasi yang didistribusikan di seluruh jaringan sistem komputer. Ini adalah sistem pencatatan informasi yang sepenuhnya terdesentralisasi, sehingga hampir tidak mungkin untuk disusupi atau diubah secara jahat.

NFT dapat dibeli, dijual, dan diamankan melalui beberapa blockchain yang berbeda, termasuk ETH, Flow, dan Tezos. Melalui platform ini, pengidentifikasi unik yang terkait dengan NFT disimpan di jaringan yang aman dan terdistribusi, menjadikan kepemilikan dan riwayatnya aman, dapat diverifikasi, dan menjadi bagian dari catatan publik.

NFT berharga karena kepemilikan atas apa pun yang diinginkan orang, pada dasarnya, berharga. Dan orang-orang menginginkan NFT. Mereka ingin memiliki karya seni dan benda-benda penting budaya. Mereka ingin memiliki barang-barang yang menurut mereka akan dihargai. Ini mengubah segalanya untuk pasar seni digital dan makna komoditas digital. Melalui NFT, pencipta dan investor dapat membuktikan kepemilikan, menciptakan kelangkaan, mendapatkan royalti, dan menjual aset digital mereka.

Penjualan NFT tumbuh ke tingkat yang baru, dengan lebih banyak pembeli unik, penjualan, dan pemain baru yang ikut serta. Data dari Coin Metrics Data Pro menunjukkan bahwa penjualan di OpenSea pada Agustus 2021 mencapai hampir 8X puncaknya di bulan Maret.

Volume perdagangan di OpenSea naik 563% dalam 30 hari terakhir, MakersPlace naik 175%, NBA Top Shot naik 86% (saat penulisan). CryptoPunks juga melonjak nilainya karena selebriti seperti Jay-Z dan perusahaan seperti Visa berinvestasi dalam aset. Secara keseluruhan, pembeli unik dan volume penjualan NFT kembali meningkat.

Konklusi

NFT merupakan sebuah inovasi baru yang mendunia dan mempunyai potensi untuk memberikan dampak positif kepada bisnis dan seniman. Namun, perkembangannya terjadi dengan sangat pesat sehingga regulasi dan hukum yang sudah ditetapkan tidak dapat menyesuaikan dengan masalah moral dan etis baru yang muncul karena NFT. Selain itu, belum juga terdapat good practices atau standar yang tetap bagi penjual, pembeli, dan perantara token tersebut. Ini menyebabkan adanya ancaman terhadap lingkungan alam serta hak cipta dan kekayaan intelektual yang menguji etika dan keamanan dari praktik NFT.

Penulis adalah Yohana Pegas Syane, Galuh Nirukti Sangadi, Muhammad Riansya Putra Mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga Universitas Indonesia