Andai Saja

Cerpen Andai Saja

Aku meringkuk di pojok teras rumah dengan cat berwarna biru terang itu. Kurapatkan badanku dengan harapan dapat menghangatkan tubuh mungilku di tengah hujan deras yang turun cukup lebat petang itu.

Sesekali aku mengangkat kepalaku menatap langit, berharap tatapanku dapat mengusir rintikan hujan.

“Kreett ..,” suara pintu terbuka mengalihkan perhatianku pada benda berwarna coklat itu.

Sepasang mata mengalihkan pandangannya ke langit, sama sepertiku tadi, manusia dengan wajah datar itu mengeluarkan napas panjang.

Tiba-tiba matanya yang tajam tertuju padaku, ekspresi tidak suka langsung muncul di wajahnya yang berbentuk bulat dengan volume pipi cukup banyak itu.

“Hush! Hush!” ucapnya dengan nada kasar.

 Aku tetap diam di tempat dan menatapnya dengan ekspresi sedih.

Manusia itu tidak menggubris belas kasihku. Ia kembali ke rumahnya yang hangat, bebas dari terpaan air.

Aku menunggunya dengan rasa ingin tahu. Tak lama kemudian Ia kembali membawa sepotong kayu dengan ujungnya yang dipenuhi bulu.

‘Apa itu?’ pikirku.

Dengan cepat, manusia bermata tajam itu menghampiriku sambil mengangkat kayu aneh dengan sekuat tenaga, bersiap-siap untuk memukulku.

Sontak aku berusaha berdiri dan siap berlari, tapi aku kalah cepat.

“Dukkk!” suara sepotong kayu mengenai tubuhku bergema di tengah cuaca buruk hari itu. Tubuhku oleng ke kiri, tapi aku harus kabur sebelum dihabisi.

Kuangkat kaki-kakiku dengan paksa dan berlari secepat kilat.

“Dasar! Disuruh pergi dari tadi juga! Bikin baju gua basah aja!” omel manusia kejam itu dari jauh.

Aku berlari di bawah terpaan hujan yang mengguyur menuju tempat antah berantah.

Naluriku mengatakan aku tidak berteman baik dengan air, tapi insting mempertahankan diri memaksaku melawannya.

Aku berlari tanpa arah sambil berusaha menghindari tetesan air dari langit berwarna kelabu selincah mungkin.

Akhirnya aku sampai di sebuah rumah dengan pagar berwarna hitam dan teras rumah yang memiliki atap, cukup untuk menghalangi hujan yang belum ada tanda untuk berhenti.

Kulangkahkan kakiku ke teras yang akan aku singgahi sementara. Kurebahkan tubuh kecilku di tempat yang sekiranya tidak terkena hujan.

Sisi kanan badanku mulai terasa sakit, mungkin karena pukulan sepotong kayu aneh dari manusia berwajah bulat dengan mata tajam tadi. Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku dengan mengedarkan pandanganku ke tempat singgah sementara ini.

Teras yang berukuran cukup luas itu memiliki pintu besar di pojok kanan rumah, tepat disebelah kiriku. Pintu besar itu terbuka seperempat memperlihatkan kendaraan beroda empat dengan warna abu-abu.

Di dekat salah satu roda kendaraan itu, tepatnya roda depan sebelah kanan, terlihat makhluk berkaki empat dengan bentuk tubuh empat kali lebih besar dariku.

Ia meringkuk di pojok garasi di atas tempat tidur kecil berbentuk persegi yang dialasi kain tebal nan hangat serta beberapa bantal dan sebuah wortel berbusa.

Wajahnya menunjukkan ekspresi bahagia walaupun matanya terpejam.

‘Enak sekali hidupnya,’ lirihku.

Pikiranku terhenti oleh suara ramah yang menyapa.

“Hei, buddy..” sapa seorang manusia dengan tinggi dibawah rata-rata dan rambut hitam yang terurai hingga bahunya, Ia membawa sebuah mangkuk berisi makanan.

Makhluk berbaki empat dengan bulu berwarna putih salju itu mengangkat kepalanya dan mengonggong dengan semangat.

Manusia ramah itu menaruh mangku berwarna hijau tua di hadapan anjing seputih salju kesayangannya.

“Dingin ya?” tanyanya kepada hewan peliharaanya itu sambil mengelus kepalanya dengan halus,

Anjing berukuran besar itu menjawabnya dengan mengaum. Seolah mengerti, manusia itu tersenyum lebar sambil berkata, “kalau bosen, masuk ke rumah aja ya sayang.”

Hewan yang sering disebut sebagai musuh bebuyutanku ini mengangguk dengan cepat menjawabnya. Manusia itu mencium kepalanya lalu berdiri masuk ke rumah besarnya.

Perhatianku kembali tertuju pada hewan berbulu lebat itu, Ia mengendus-endus mangkuknya kemudian menyantap makanannya dengan lapar. Tanpa sadar perut mungilku ikut berbunyi.

Aku mengedarkan pandanganku, siapa tahu beruntung menemukan makanan layak santap. Tapi keberentungan bukan hal mudah untuk didapatkan apalagi setelah hujan yang mulai reda.

Aku putuskan untuk mencari sepotong makanan yang mungkin tergeletak di pinggir jalan. Kuremaskan otot-otot kakiku, bersiap untuk menempuh pertualangan pencarian makanan.

Aku mulai berjalan keluar dari celah pagar tempat singgah sementaraku tadi sambil menghindari genangan air di berbagai sudut jalan. Kutolehkan kepalaku sejenak untuk melihat anjing berunting seputih salju itu.

‘Andai saja,’ mimpiku.

Kufokuskan kembali tujuanku mencari makan untuk bertahan, kulangkahkan kaki-kakiku menyusuri jalan penuh lubang ini.

Aku berhenti sejenak saat melewati genangan air yang memantulkan bayanganku. Mata kecilku berwarna kuning dengan pupil hitam, hidungku mancung walau tak membawa beruntung, kumisku panjang dan berjumlah lima pasang, wajahku kecil nan mungil dengan bulu-bulu pendek berwarna hitam dan putih. Noda-noda banyak menempel di sekitar tulang pipiku, kuputuskan untuk membersihkannya sejenak.

Kujilat kaki depanku bagian kanan untuk membasahinya, saat merasa cukup, kuoleskan kakiku ke wajahku yang dipenuhi noda.

 Aku kembali memandang pantulan bayanganku di genangan air itu untuk melihat kembali penampilanku.

‘Lebih baik,’ pikirku.

Kubawa kaki-kakiku melangkah lagi menyusuri jalan sambil mengendus-endus bau sedap yang dapat disantap. Hidungku masih belum menunjukkan tanda-tanda bau makanan, mataku yang dapat memantulkan cahaya saat gelap juga belum menemukannya.

Keputusasaan mulai menyelimutiku bersamaan dengan malam yang mengendap-endap.

Lampu-lampu di jalan besar yang aku telusuri mulai mentala, ada yang intensitasnya besar, redup, bahkan berkedip.Kendaraan-kendaraan masih hilir mudik walau matahari tak lagi berkedip. Kutolehkan kepalaku ke kanan, ke kiri melihat tanda-tanda sisa makanan yang mungkin tergelatak, terlupakan, di sisi jalan.

Tak menemukan tanda-tanda, aku memutuskan untuk berhenti di sebuah toko yang sudah ditutup. Aku mendudukkan setengah badanku di pojok toko dengan lantai beralaskan keramik sederhana berwarna putih yang memiliki bercak-bercak noda hitam abadi.

Aku menyisir suasana lingkungan itu dari pos siagaku. Tidak ada rasa belas kasihan manusia yang menolehkan pandangannya ke arahku.Perutku kembali menyapa dengan mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Aku memejamkan mata lama-lama dengan tujuan melupakan rasa lapar yang kian menggelalar.

Kuputuskan untuk membaringkan badanku di keramik putih bernoda yang dingin itu. Kuedarkan pandanganku sekali lagi sebelum memejamkan mata untuk tidur sambil melupakan rasa lapar.

Suara bising kaleng bergema membangunkanku, sontak aku kaget bukan main. Kuangkat kepalaku dan dua kaki depanku untuk melihat sumber bising itu.

Mata kuningku menangap pergerakan manusia dengan tinggi badan standar, kulit sawo matang, dan bentuk tubuh kurus menjulang itu sedang membereskan sekaligus membersihkan kaleng-kaleng itu dari tas besar buatan jerami miliknya.

Tas jerami yang berukuran 100 kali ukuran tubuhku itu memuat banyak barang. Mulai dari kumpulan kertas bekas, tumpukan gelas plastik bekas pakai, dan kaleng-kaleng mendominasi isinya.

Kuawasi tiap gerak-geriknya. Manusia kurus itu menyusun kaleng demi kaleng, menumpuk gelas plastik hingga tinggi, dan melurus-luruskan kumpulan kertas bekas dengan rapi.

Setelah selesai dengan pekerjaannya, manusia yang memakai topi bulat dari jerami itu mengeluarkan napas panjang sambil menyeka keringat didahinya.Ia meluruskan kaki-kaki kurusnya yang tidak dialasi alas kaki, jari jemarinya meraba kantong celananya dan dengan perlahan mengeluarkan isinya.

Sebuah roti berbentuk bulat sembarang dengan kualitas yang tidak bisa disebut bagis. Manusia dengan mata lembut itu menggigit makannanya perlahan, menikmatinya.

Aku memandangnya dengan penuh iri, perutku semakin bergema dibuatnya.

Kuberanikan diriku melangkah mendekatinya.

“Meong,” ucapku dengan suara parau.

Manusia yang sedang menyantap roti berharga miliknya itu mengangkat kepalanya, mencari sumber suara parau, yaitu aku. Matanya yang berwarna hitam akhirnya menemukan pergerakan kecilku di pojok kiri toko yang sudah tutup dengan keramik bernoda hitam abadi itu.

“Helo...,” sapa manusia itu dengan nada ramah dan sentum sumringah.

Aku mengeong lagi dengan harapan dapat diberi makanan.

Manusia kurus itu mengalihkan pandangannya ke roti bulat tang tersisa setengah sambil berkata, “mau?” tawarnya sambil mengangkat santapan berharganya itu. Aku mengeong lagi dengan semangat berharap ia mengerti maksudku.

Manusia yang bajunya terdapat banyak noda mengeluarkan napas panjang. “Dibagi ya rotinya?” ujarnya dengan senyum tersungging dibibirnya.

Ia dengan perlahan memotek roti bulat yang tersisa setengah itu, kemudia meletakkan bagianku di atas selembar kertas yang disobek dari tumpukan kertas rapi tadi.

“Ini punyamu ya.”

Aku mengeong kecil, berterima kasih padanya dalam bahasaku. Manusia ramah itu mengangguk kecil seolah mengerti ucapanku.

Aku menyantap makanan pemberiaannya dengan lahap. Ternyata dari sekian banyak manusia yang sering kali menghardikku, manusia dengan mata lembut dan bertopi bulat ini bukan salah satunya.

Setelah ia selesai menyantap roti bagian miliknya, ia menatapku dengan intens.

‘Apa salahku?’ pikirku seraya mengangkat kepalaku perlahan lalu mundur selangkah.

“Hei, jangan ke mana-mana,” ucapnya sambil melambaikan tangan kanannya yang penuh noda.

Aku mengeong halus sambil melangkah menghampiri makananku. Kulahap roti kecil itu dengan lahap sampai tak menyadari manusia itu sedang mengelus kepalaku.

“Hari yang panjang hmm?” tanyanya padaku sambil mengelus kepalaku dengan sayang. Aku mendengkur halus seraya memiringkan kepalaku ke kiri supaya manusia ramah itu mengelusku di bagian itu.

Tanpa sadar makananku telah habis kusantap, melihat hal ini manusia dengan topi bulat itu mengangkatku perlahan dan meletakkanku dipangkuannya.

 “Kasihan kamu, masih kecil, tapi...,” celotehnya sambil mengelus kepala hingga badanku.

 “Meong,” jawabku.

“Kalau ada makanan lagi, nanti aku kasih ya,” ujarnya sambil tertawa kecil. (FI)

 

Penulis: Fabbiola Irawan, Mahasiswa Program Studi Penerbitan (Jurnalistik), Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta.